Selasa, 05 Februari 2008

....parameter sebuah kebahagian....

Abis curhat by sms ma seorang temen deket


About HOPE for you ”The worst pain in the world is knowing that he meant everything to you but you meant nothing to him. But, life goes on once you realize your own strength inside of you: the strength to realize that saying goodbye doesn’t mean that you don’t love the person anymore or that you don’t want to keep him in ur life. It dosnt mean you re weak.it means that you ve the strength to let go and live your life to the fullest because you ve learned that life really is good. You are strong and can only be as happy as you choose.

1 february 2007 02:25

By her,,,

Jadi inget kemaren sempet pengen nulis tentang sesuatu berjudul “bahagia”..

Sayyah percaya bahwa setiap orang mempunyai hasrat untuk bahagia..sekecil apapun itu..dalam bentuk apapun itu, pasti tetap ada di dalam setiap masing-masing dari diri kita.

Dan sayyah percaya bahwa orang mempunyai caranya sendiri buat punya sebuah kebahagiaan. Seperti apapun itu. Karena ( lagi-lagi yang sayyah pcaya bahwa) standar tolak ukur nilai kebahagiaan bagi setiap orang adalah berbeda. Tidak mungkin sama persis. Karena masing-masing mempunyai hidup yang berbeda. Dimulai dari apapun dia hidup.

Jadi, sebenrnya tiap orang berhak kan hidup dengan seperti apapun… mungin batasannya (secara umum) adalah “tidak merugikan orang lain”. ( begitu bukan??!)

Dan ketika di sana berdiri seseorang menunggumu dengan berkata “aku ingin hidup bahagia bersamamu”. Mustahilkah itu? Mungkin tidak.

Iya, memang bukan hal yang mustahil. Tapi juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan.

Apakah bahagia tetap menjadi sebuah nilai bahagia ketika standar nilai kebahagiaan itu sediri kamu paksakan pada orang lain dengan dalih kmu ingin dia hidup bahagia?! Shingga kamu mencoba menyamakan bagaimana cara untuk menjadi bahagia. Bukankah itu tidak adil? Baik bagi dia maupun bagi dirimu sendiri?

Bagaimana jika dengan alasan bahwa kamu menyayanginya? Kmu mencintainya mungkin?

Tapi bukankah mencintai seseorang berarti mencintai dia dengan nilai-nilai yang dibawanya, bukan dengan nilai-nilai kita yang kita ingin dia bawakan?

Someone tolds me..

Loving someone is setting them free, n want the best happens to them..

30 January 2007, 03:24

By him,,,

Klise memang. Tapi bukankah dalam hidup kita dipenuhi oleh hal-hal yang klise. Sadar atau tidak.

Lalu bagaimana jika dengan alasan “ingin yang terbaik buat dia.. ingin dia menjadi sesuatu yang lebih baik”..

Namun apakah apa yang kita anggap sebuah yang “terbaik” buat seseorang adalah benar terbaik buatnya.

Apakah kita benar-benar tahu yang terbaik untuk orang lain? Sebaik kita mengetahui apa yang terbaik buat kita sendiri? Atau jangan-jangan kita sendiri kadangkala masih kebingungan memutuskan apa yang terbaik untuk diri kita?

suatu hal yang wajar seseorang ketika seseorang mengalami kebingungan tentang apa yang terbaik untuknya.

Masing-masing pasti pernah mengalami saat-saat seperti itu. Tapi itu adalah sebuah proses pembelajaran bagi setiap individu. Bagaimana mereka akhirnya harus “memilih’ dalam hidup. Dan kemudian bertanggung jawab akan pilihan itu. Bagi kita yang “bukan sebagai diri orang lain itu”, kita mungkin tidak seharusnya menjadi “si pembuat keputusan” tentang apa yang terbaik baagi orang lain, siapapun itu.

Bahkan seorang orang tua sekalipun, mungkin tidak sebenarnya bena-benar tahu apa yang terbaik untuk anak mereka. Ada sih yang disebut sebagai ‘naluri seorang ibu’..yang kemudian ibu yang bijaksana membantu memberi pandangan-pandangan lain sebagai sebuah pertimbangan untuk memutuskan. Dan itulah yang bisa kita lakukan dan orang lain lakukan untuk kita. Mencoba memberi pandangan.

Seseorang berkata..

mbok ya hidup jangan dibikin ribet. Jalanin apa yang ada di depanmu. Kenapa harus nyari sesuatu yang gak ada di depanmu? Padahal di depanmu sudah tersediakan sebuah pilihan yang lebih mudah untuk kamu pilih..

lagi-lagi berkisar tentang pilihan. Tapi bukankah hidup memang terdiri dari pilihan-pilihan yang entah telah tercipta atau kita ciptakan sendiri.dan pada akhirnya pilihan itu yang akan membawa kemana arah hidup kita akan mengalir. Maka tugas kita adalah memilih, yang kemudian harus kita perjuangkan.

Pada akhirnya aku menyadari bahwa pilihan itu untuk diperjuangkan, bukan hanya untuk diperbandingkan.

Ya, pilihan memang untuk diperjuangkan oleh kita yang telah memilihnya. Itulah yang nantinya akan bisa menjadi salah satu faktor penilaian tingkat kdewasaan kita dalam menjalani hidup. Bagaimana kita menjalani pilihan hidup kita. Mengadapi setiap kemunginan dari setiap langkah yang kita jejakkan untuk memulai tahap perjalanan hidup.

Maka, ketika kita memutuskan untuk hidup bahagia, maka kita sendiri yang harus membuat setting hidup kita agar kita bisa bahagia. Bukan berarti kita mengingkari keberadaan hal-hal yang ada di luar lingkaran diri kita. Bagaimanapun juga, keberadaan mereka akan menjadi factor luar ( maupun kemudian menjadi factor dari dalam) yang mempengaruhi bagaimana kita harus mengeset hidup kita, menyesuaikan dengan keberadaan mereka-mereka itu tanpa meningggalkan tujuan utama kita untuk meraih sesuatu yang berjudul ‘bahagia’.

Tentang perubahan. perubahan dalam hidup pastilah selalu ada. Tidak akan ada yang selalu tetap sama.

Yang selalu tetap sama justru adalah perubahan itu sendiri.

Suatu hari seseorang menuliskan sesuatu yang aku sebut dengan gambaran hatinya. Di dalamnya dia hanya ingin mengatakan bahwa semua berubah dalam diri orang-orang yang selama ini ia sebut sebagai teman. Dan bagaimana perubahan itu membuat dia jadi sendiri. Yang akhirnya membuat ia merasa teman-temannya sedang meninggalkannya.

Dan tanpa sayyah sadari, jari-jari tangan langsung bikin statement tanpa perlu minta ijin duluh

bukankah hidup itu memang penuh dengan perubahan. Bahkan tanpa kamu sadari kamu pun sedang menjalani sebuah perubahan yang tengah berlangsung di setiap detik yang kamu lalui.

Klise ketika mengatakan, bahwa yang selalu tetap sama dan ada adalah perubahan itu sendiri. Meskipun kemudian yang muncul adalah sebuah pola yang sama. Tetapi bukankah pola terbentuk dari sebuah siklus yang berulang. Dan bukankah siklus itu sendiri terdiri dari perubahan-perubahan yang terjadinya secara bertahap. Sehingga pola yang sama belum tentu menghasilkan hasil yang sama. Karena di setiap perubahan yang terjadi dalam setiap siklus, pasti mengalami sebuah proses yang berbeda pula,meskipun mungkin sedikit, tetapi tetap tidak mungkin sama persis”

Semuanya kemudian kembali bagaimana kita menyikapi perubahan yang terjadi di sekitar kita. Apakah kita mau menerimanya atau menghindarinya atau bahkan menolaknya mentah-mentah. Itu juga bakal jadi salah satu factor penilaian tingkat kedewasaan seseorang. ( at least ini menurut pandangan ku…).

Satu hal yang duluh pernah ditekankan seseorang pada sayyah

“ setiap orang mempunyai nilai tersediri bagi dirinya sendiri. Tidak ada nilai absolute tentang benar salah di dalamnya. Meskipun nilai itu mungkin tidak sama dengan yang layaknya ada. Yang ada adalah nilai bagaimana dia mampu mempertanggungjawabkannya atau tidak. Dan itulah yang terpenting. Dan satu lagi, alasan yang dipunyai. Mungkin alasan hanyalah sebuah alasan bagi sebagian orang. Tapi bukankah alasan lah yang mendasari pemikiran kita untuk melakukan sesuatu atau tidak”

Jadi,,

seperti apakah diri kita…

seperti apakah nilai-nilai yang kita miliki untuk diri kita..

yang kemudian akan memberi petunjuk bagaimana kita bisa bahagia..

that’s only we know,don’t we…? ^^



*ini hasil postingan lamah buwangett yg dipndahkan ke halaman inihh,,dari blog fs.huehehe*



2 komentar:

pporicrazy mengatakan...

"dari tulisan ini...
aku ditinggalkan......"

colonel mengatakan...

dari tulisan ini pula kamu meraih